Jumat, 07 Januari 2011

Masalah Pada Wanita


Masalah Pada Wanita

Mustahil untuk memastikan banyaknya masalah seksual yang bisa merusak suatu, karena sampai sekarang, orang malu mencari bantuan. Wanita yang mengalami hambatan nafsu seksual tidak dapat terangsang secara seksual, meskipun dirangsang oleh pasangannya atau dengan fantasi. Karena itu, dia tidak dapat mengadakan hubungan seks dengan layak.

Pada wanita, ditemukan empat masalah seksual.

Pertama, Hambatan nafsu seksual. Wanita yang mengalami hambatan nafsu seksual tidak menginginkan atan menikmati seks. Tetapi dia mengijinkan pasangannya untuk bersenggama dengannya, sebagai suatu kewajiban. Wanita yang lain mungkin sangat cemas dengan gagasan bersenggama sehingga menolak atau membuat alasan untuk menghindarinya.

Kedua, Hubungan seks menyakitkan sehingga manghambat atau menyebabkan kekecewaan mendalam yang tidak akan pernah dapat dinikmati. Masalah ini disebut dyspareunia, yang berarti senggama yang menyakitkan. Apabila wanita merasa sangat sakit ketika penetrasi/pemasukkan kemaluan pria ke dalam vagina, dan menolak dengan menegangkan otot-otot sekeliling saluran masuk ke vagina, maka kondisi ini di sebut vaginismus.

Ketiga, Meskipun mempunyai nafsu seksual normal, setidaknya dia mempunyai fantasi atau mimpi seks namun dalam kenyataan dia gagal atau tidak bisa terangsang oleh pasangannya selama perangsangan seksual. Karena itu, vagina tidak mengalami pembasahan, dan jaringan lembut pada jalan masuk ke vagina tidak berkembang. Pada saat senggama berlangsung, dia sedikit saja atau tidak merasakan kenikmatan erotis sama sekali, meskipun mungkin dapat menikmati bentuk rangsangan yang lain dari pasangannya. Masalah ini disebut libido menurun

Keempat, Wanita itu tidak dapat mencapai orgasme. Dengan kata lain dia mengalami disfungsi orgastik. Istilah ini perlu diterjemahkan secara hati-hati. Berapa ahli terapi seks percaya, semua wanita yang gagal mencapai orgasme selama senggama mengalami disfungsi orgastik. Wanita tidak disebut mengalami disfungsi orgastik apabila dia biasanya mengalami orgasme selama percumbuan, baik dengan masturbasi, ketika pasangannya memasukkan kemaluan ke dalam vagina, atau ketika dirangsang sebelum atau sesudah pasangannya mencapai orgasme. Wanita yang melakukan masturbasi sendiri hingga mencapai orgasme tidak disebut mengalami disfungsi orgastik, meskipun ketika bersama pasangannya dia tidak mencapai orgasme. Wanita itu tidak sakit atau frigid.

Yang disebut mengalami disfungsi orgastik adalah wanita yang tidak pernah sama sekali mencapai orgasme dengan rangsangan apapun. Jadi penting untuk diingat, banyak wanita mencapai kenikmatan dan kehangatan emosional dari kedekatan dan keintiman senggama, meskipun tidak mencapai orgasme. Berbagai artikel majalah yang menekankan kebutuhan untuk menjadi wanita yang sesungguhnya dengan mencapai orgasme, terlalu berlebihan. Yang seharusnya ditekankan adalan wanita yang mencapai kedekatan emosional dan kebahagiaan selama senggama akan mencapai kenikmatan yang lebih besar jika mereka dibantu oleh pasangannya untuk mencapai orgasme.

Jika anda mengalami orgasme, dengan metode apapun berarti anda normal. Jika anda tidak mencapai orgasme selama senggama tapi mencapainya ketika pasangan merangsang anda atau dengan masturbasi, andapun normal. Orgasme yang dicapai selama senggama tidak lebih baik atau lebih normal daripada yang dicapai dengan cara lain. Tetapi jika anda tidak mencapai orgasme dengan pasangan atau malu untuk mencapai orgasme dengan masturbasi dan anda takut melakukan, anda dapat dibantu.

Wanita dengan satu atau lebih masalah seksual di atas sering disebut frigid. Istilah ini seharusnya ditinggalkan. Istilah frigid menyatakan bahwa wanita itu yang karena kondisi bawaan tertentu, tidak pernah dapat memberikan respon seks secara penuh, tidak benar. Dengan konselor atau bantuan seorang pasangan, wanita umumnya dapat terangsang dan hampir semua mencapai orgasme. Ada perbedaan kecepatan perubahan, wanita yang tidak dapat terangsang secara seksual lebih sulit dibantu ketimbang wanita yang terangsang tetapi gagal mencapai orgasme.

Penyakit, obat-obatan dan alkoholisme dapat menyebabkan masalah seksual pada beberapa wanita. Tetapi hampir separuh dari wanita mengalami kegagalan orgasme seksual disebabkan oleh masalah psiko-seksual, yang biasanya dapat disembuhkan dengan bantuan pasangan mereka atau mungkin oleh bantuan seorang konselor. Ada beberapa alasan mengapa sejumlah wanita mengalami masalah seksual, dan dalam berbeda masalahnya pun berbeda.

Sebab-sebab karena pengaruh psiko-seksual

Hubungan yang buruk
Jika sepasang kekasih merasakan permusuhan terhadap pasangannya dan tidak dapat membicarakan masalahnya secara terbuka, maka dapat terjadi ketidak harmonisan perkawinan, dengan berkurangnya keinginan dan rangsangan seksual. Sebab lain disfungsi seksual adalah, jika pasangan ini tidak dapat menyampaikan secara terbuka tentang kebutuhan dan keinginan seksual mereka. Sebagai contoh, hanya wanita bersangkutan yang dapat memberitahu pasangan, apa yang dapat membuat gairah seksnya bangkit, pria (atau wanita) tidak dapat mengetahui secara naluriah dan setiap wanita mempunyai respon seks berbeda.

Tanpa komunikasi yang baik, masalah seksual dapat menjadi besar. Jika pria tidak memahami kebutuhan seks wanita, dan menggunakan teknik yang buruk untuk membantu terangsang, maka hasilnya adalah antagonisme dan menurunnya seksualitas bersama. Tergantung baik buruknya hubungan tersebut, wanita mungkin akan menghambat respon seksnya sendiri, atau menerima rangsangan seks dari pria meskipun dia kurang menikmati.

Ketidaktahuan
Didikan yang salah di masa anak-anak oleh orang tua yang keras dan bersifat menghambat secara seksual, membuat seorang gadis percaya terhadap standart ganda seksualitas, menerima tuntutan dari orang tua secara pasif, dan tidak mempunyai harapan akan kenikmatan seksual. Akibatnya nafsu seks berkurang dan menambah keyakinan bahwa seks adalah kewajiban yang harus dibayarkan kepada seorang pria agresif yang penuntut. Jadi, bukan kenikmatan yang dinikmati bersama.
Banyak wanita yang percaya dengan mitos seksual sebagai berikut:

* Wanita seharusnya siap menerima seks dari suami, baik dia menginginkan atau tidak.
* Orgasme yang bersamaan penting untuk kepuasan seksual yang sesengguhnya.
* Pria mengetahui bagaimana merangsang seorang wanita, dan jika wanita tersebut gagal terangsang, maka ini adalah kesalahan wanita itu sendiri.


Perasaan bersalah dan malu
Beberapa orang tua mengajarkan anak gadisnya untuk mempercayai seks adalah kegiatan yang memalukan, di mana seseorang berbuat sekehendak hatinya. Dalam keluarga seperti ini, seks tidak pernah dibicarakan terbuka, dan informasi (lebih tepatnya, informasi yang salah) diperoleh dari teman-teman seusianya secara bisik-bisik. Jika orang tua menganggap bagian tubuh manusia kecuali wajah, tangan dan kaki yang terbuka, tidak patut dibicarakan dan menghukum anaknya yang berusaha mencari tahu tentang hal itu, atau tidak menjawab dengan masuk akal keingintahuan alamiah dari anak tentang seks dan reproduksi manusia, maka anak itu akan menganggap seks adalah soal yang memalukan dan harus diabaikan. Ini dapat mempengaruhi sikap terhadap anak di kemudian hari.

Sikap sebaliknya, dapat pula menimbulkan rasa malu. Gadis-gadis modern dan banyak membaca buku seks serta membicarakan secara terbuka dapat mengalami kekurangan nafsu seksual. Dalam masyarakat modern, keberhasilan dipuji. Jika berhasil dalam kehidupan seksual yang berarti tercapainya orgasme pada setiap episode senggama, maka keberhasilan akan meninggalkan kaum wanita. Hal ini bukan karena kaum wanita kurang nafsu seks dan kemampuan mencapai orgasme selama bertahun-tahun. Seorang wanita yang gagal mencapai keberhasilan seksual dengan orgasme menjadi malu, sebab merasa dirinya tidak mampu. Rasa malu ini semakin mengurangi nafsu seksual dan dijadikan pedoman bagi kegagalan berikutnya.

Ia menjadi cemas dengan kemampuannya menanggapi seks, oleh orang amerika disebut performance anxiety. Untuk menghindari bertambahnya kecemasan, dia menekan nafsu seksualnya (dengan kata lain libidonya berkurang) atau menghambat respon seksnya (dengan kata lain gagal mencapai orgasme).

Selama senggama, wanita dapat meningkatkan kesadaran seksual dengan memusatkan pikiran pada hal-hal yang dapat membangkitkan gairah. Tetapi jika dia selalu berpikir betapa memalukan tindakan itu, dan pernah tidak mampu mencapai orgasme, maka nafsu seksnya semakin berkurang justru karena kecemasan yang terlalu berlebihan. Perasaan kurang mampu dapat pula diperbesar oleh bacaan-bacaan dan film. Buku dan film-film itu menggambarkan langit akan penuh dengan bintang-bintang gemerlapan dan musik berdenging di telinga ketika seorang wanita mencapai orgasme. Akibatnya para gadis mengharapkan pengalaman yang sama ketika suatu saat mencapai orgasme, rasa nikmat menyelimuti seluruh tubuhnya. Tetapi tidak sesuai dengan kenyataannya, tidak ada bintang-bintang gemerlapan atau musik berdenging. Ia merasa telah gagal, dan konflik pun muncul dalam pikirannya. Konflik yang disebabkan keyakinan yang salah secara bawah sadar mengurangi nafsu seksualnya, sehingga dia sengaja menghidari rasa sakit dan malu karena kegelian.

Rasa kegagalan seksual bertambah dengan pengetahuan bahwa dia dapat mencapai orgasme bila pasangannya memberi rangsangan erotik atau dia bermasturbasi. banyak wanita dibesarkan dengan keyakinan masturbasi atau perangsangan adalah hal yang memalukan. Mitos ini juga dipercaya oleh banyak pria. Yang benar, orgasme adalah orgasme, bagaimana pun yang di hasilkannya.

Kesehatan yang buruk dan kelesuan
Beberapa masalah seksual disebabkan oleh penyakit fisik atau mental, termasuk depresi. Walaupun kesehatan yang buruk jarang menjadi penyebab disfungsi seksual dibanding penyebab-penyebab yang lain. Ketika berusaha memecahkan masalah seksual, konselor mula-mula memastikan tidak ada penyakit fisik atau mental, dan menanyakan apakah dia pernah minum obat yang dapat mengurangi kepekaan seks.

Faktor penyebab yang cukup sering ditemukan adalah kelesuan. Kelesuan dihubungkan dengan berkurangnya nafsu dan kemampuan seks pada banyak orang. Di masyarakat kita, wanita bisa menjadi lebih lemah dari pria karena mengalami banyak tekanan fisik dan emosional. Selain kewajiban membesarkan anak-anak dan menjaga rumah, di saat yang sama dia sering harus bekerja di kantor, menghadapi tuntutan bertetangga dan bersosialisasi. Akibatnya, dia menjadi sangat lelah untuk menanggapi seks.

Apa yang harus dilakukan?

Jika wanita mengalami dyspareunia mungkin ada sebuah penyebab lokal. Konselor akan memastikan apakah dia tidak menderita candidosis atau endometriosis yang membuat senggama terasa menyakitkan. Pada kebanyakan kasus dyspaureunia, dan dalam semua kasus vaginismus, sumber masalah adalah psikologis yang bisa diperburuk oleh pasangan yang tidak pengertian. Banyak wanita yang masih percaya bahwa senggama itu menyakitkan atau tidak mungkin, karena vagina mereka berukuran terlalu kecil dan kemaluan pria terlalu besar. Pria dapat memperkuat keyakinan ini jika gagal merangsang wanita, sehingga ketika berusaha memasukkan kemaluan ke dalam vagina, vagina belum cukup basah.

Banyak wanita yang tidak mengetahui anatomi alat kelamin mereka. Tidak tahu di mana letak clitoris, atau bagaimana labia mengelilingi vagina. Tidak pernah melihat bentuk vulva di cermin sehingga tidak mengetahui seperti apa bentuknya. Keyakinan dan kegagalan ini menghasilkan rasa takut bahwa senggama akan menyakitkan dan merusak dirinya. Tetapi dengan pemahaman dan bantuan pasangan, setiap wanita yang mengalami vaginismus dapat disembuhkan.

Solusi masalah berkurangnya nafsu seks (libido rendah) dan kagagalan orgasme (disfungsi orgastik) jauh lebih rumit. Jika pasangan tidak mempunyai hubungan emosional yang cukup, mereka tidak dapat berhubungan secara seksual. Jika wanita tidak yakin tentang hubungannya dan merasa terganggu dengan keinginan seks, serta mempunyai pasangan yang mengalami hambatan seksual dan emosi yang tertutup, sulit mencapai komunikasi seksual dengan pasangannya. Akibatnya, pasangan tidak dapat memahami bahwa dia mempunyai masalah yang tidak dapat di bicarakan.

Pria biasanya mengetahui jika dirinya terangsang secara seksual dan tahu cara mencapai orgasme, yang seringkali dicapai dengan cepat. Tetapi mereka sering lupa membantu pasangan mencapai kenikmatan seksual yang sama. Mereka mengabaikan kenyataan bahwa wanita mungkin memerlukan waktu lebih lama untuk mencapai tahap kebangkitan gairah seks, sehingga menjadi tanggung jawabnya sebelum wanita itu siap. Karena hambatan dalam menyampaikan kebutuhan seksual ini, wanita tidak dapat meminta pria untuk membantu mencapai orgasme dengan merangsangnya, dan pria itu sendiri terlalu acuh tak acuh untuk mengambil inisiatif.

Hasil penelitian menyebutkan, dalam penyelesaian masalah seksual biasanya dibutuhkan keterlibatan kedua belah pihak. Masalah seksual seorang wanita hanya dapat dipecahkan juka pasangannya siap membantu dengan tulus dan cinta.

Dengan kerjasama dari pasangan dan dengan bantuan seorang konselor penyembuhan menjadu mungkin. Mula-mula konselor memastikan bahwa wanita itu tidak mempunyai penyakit yang dapat mengurangi nafsu seksnya. Langkah selanjutnya adalah menemukan apa yang dapat membuat wanita itu sulit mengalami rangsangan seksual, sehingga dia menjadi sadar diri secara seksual, dan pasangan dapat mengetahui kebutuhan seksnya. Konselor berusaha membantu pasangan tersebut mencapai suasana yang santai dan merangsang, di mana mereka dapat belajar memberikan kenikmatan pada pasangannya. Dalam lingkungan seperti ini, tanpa tekanan untuk melakukan hubungan kelamin, nafsu seks wanita biasanya menjadi bangkit kembali. Pada mulanya tidak terlalu kentara, tetapi dengan berjalannya waktu, kenikmatan meningkat. Hanya pada saat benar-benar terangsang, barulah pasangan itu berusaha untuk senggama.

Beberapa wanita sangat ingin memberikan kenikmatan seksual kepada pasangannya meskipun mereka sendiri tidak terangsang, baik selama percumbuan atau selama senggama. Jika wanita itu merasa senang dan pasangannya juga puas, janganlah merasa kurang feminin dibandingkan wanita yang dapat menanggapi rangsangan seksual secara penuh.

Masalah kegagalan mencapai orgasme dapat diatasi dengan teknik percumbuan serupa, tetapi dapat melalui tahap-tahap belajar yang lebih cepat. Seringkali pria harus mempelajari teknik rangsangan agar wanita bisa mencapai orgasme. Yang penting pihak wanita memberitahu apa yang dapat membuatnya puas secara seksual. Jadi, tidak hanya membiarkan pria melakukan apa yang dirasa dapat memberi kepuasan kepada wanita. Di sini pihak wanita menjadi pengarah dan mempunyai wewenang terhadap sebagian besar tindakan yang dapat merangsangnya.

Masalah disfungsi orgastik diatasi dengan lebih mudah oleh sebagian wanita dengan masturbasi. Mereka menggunakan fantasi sebagai rangsangan erotis, bukan dirangsang secara erotis oleh pasangannya. jika metode ini gagal membantu wanita mencapai klimaks, konselor menyarankan pemakaian vibrator, dengan metode apapun, untuk memcapai orgasme secara teratur. Dibantu pasangan yang simpatik, lembut dan kooperatif, umumnya wanita yang gagal mencapai orgasme dan kebanyakan mereka yang tidak terangsang secara seksual, menemukan respon seksnya meningkat dan mencapai orgasme secara teratur.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar